Jalan-Jalan ke Desa Wisata

Wisata Ubud
Wisata di Persawahan Ubud

Setelah membaca beberapa berita di media mengenai target Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam mengembangkan desa wisata di tahun 2012 hingga 928 desa wisata di 33 provinsi saya menjadi tertarik untuk mengetahui desa-desa wisata di Indonesia.  Rencana pengembangan desa wisata memang sudah digaungkan pemerintah sejak 2009 dengan target 200 desa, jika tahun 2012 menargetkan 928 desa wisata yang menjadi pertanyaan saya adalah, dimana dan apa saja yang ditawarkan desa wisata tersebut? Pencarian pertama sudah pasti ke situs Indonesia’s Offical Tourism Website, dengan mengetikkan kata kunci “desa wisata” di kotak pencarian. Saya langsung terpukau dengan banyaknya jumlah halaman dari hasil pencarian tersebut, waah ternyata benar sudah ada ratusan desa wisata di Indonesia. Di halaman pertama saya langsung menemukan daftar desa wisata, dan ketika masuk halaman kedua saya hanya menemukan hasil pencarian yang berkaitan dengan kata desa dan wisata, tidak lagi menemukan desa wisata. Jadi dimanakah 200 desa wisata yang ditargetkan tahun 2009? Apakah hanya menjadi tumpukan laporan hasil pemetaan desa wisata yang lupa untuk di publish? Dalam bayangan saya ketika membaca berita desa wisata adalah saya akan menemukan daftar desa wisata di 33 propinsi, tidak muluk-muluk informasi yang saya harapkan dari website tersebut, cukup daftar desa wisata, lokasi dan keunikan desa tersebut. Tapi baiklah….harus optimis dengan pariwisata Indonesia bukan? Yux mari kita do’akan tahun 2013 kita dapat mengetahui informasi lengkap 928 desa wisata di 33 propinsi baik via website maupun buku.

Sambil menunggu kiamat 2012 saat itu tiba kita berandai-andai dulu desa wisata seperti apa yang menjadi impian anda dan saya. Desa/Kampung Wisata termasuk juga Kampung Adat sebenarnya telah ada cukup lama, hampir di tiap daerah memiliki desa wisata, baik itu desa wisata yang dibuat secara khusus seperti desa wisata Sade di Lombok ataupun tercipta dengan sendirinya (Kampung Batik Laweyan Solo).


Salah satu kampung wisata di Bogor yang cukup terkenal adalah Kampung Cinangneng. Dengan lokasinya yang tidak jauh dari kota Jakarta, tawaran paket wisata menanam padi, membajak sawah dengan kerbau, makan makanan khas dengan suasana alam pedesaan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat kota yang tidak pernah melihat dan merasakan suasana pedesaan. Sorotan media televisi sangat membantu munculnya kampung wisata baru dengan beragam tawaran paket wisata. Saya sendiri yang berasal dari kampung dan sudah terbiasa mengenal aktivitas di sawah kurang tertarik dengan desa wisata yang masih berhubungan dengan pertanian. Saya juga tidak tertarik dengan desa wisata yang menawarkan berburu dan meramu karena takut di hutan bertemu ular! #hallah.

Jalan-Jalan ke Desa

 

Desa wisata impian saya adalah:

  • Kampung nelayan dimana saya bisa ikut pergi melaut di malam hari (dengan pelampung tentunya hihihiii) dan kembali di pagi hari dengan tangkapan ikan yang banyak, memperbaiki jala, mengecat perahu, menjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (dengan masker khusus) dan tentu saja bakar ikan.
  • Kampung Batik, Kampung Tenun, Kampung pengrajin perak, dimana saya bisa ikut menghancurkan menghasilkan kerajinan tangan mengingat kemampuan tangan saya hanya seputaran menari di atas piring dan keyboard. Biar lebih seru harus ada atraksi budaya atau upacara adat.

Syaratnya: Lokasi desa wisata tersebut harus mudah di jangkau dan sarana jalan memadai sehingga tidak mengharuskan wisatawan berkuda sehari semalam. Tidak jauh dari desa wisata juga terdapat banyak tempat wisata, Penginapan boleh sederhana tapi semoga tidak ada cara mandi pakai kemben di sungai. Makanannya asal tidak mengandung arsenic halal tidak menjadi masalah. Adat, kepercayaan dan norma di kampung tersebut tidak menyusahkan saya dalam beribadah. Hasil kerajinan yang di jual tidak mahal sehingga saya mampu beli, syukur-syukur bisa beli dalam jumlah banyak untuk oleh-oleh. (banyak maunya!!)

Apakah anda juga tertarik dengan desa wisata? Silahkan di lihat-lihat dulu desa wisata berikut ini:

Sumatera:

  • Desa Jangga terletak di tepi Gunung Simanuk-Manuk, Lumban Julu, kabupeten Toba Samosir, Sumatra Utara, sekitar 24 km dari Danau Toba.  Desa ini adalah salah satu dari sejumlah desa Batak asli di wilayah Lumban Nabolon, Tonga-Tonga Sirait Uruk, Janji Matogu, hubak Sihubak, Siregar, Sigaol, Silalahi Toruan Muara dan Tomok Sihotang. Di desa Jangga anda akan menemukan deretan rumah-rumah tradisional, atraksi budaya dan sejarah, seperti sisa-sisa peninggalan raja-raja Batak berabad-abad yang lalu termasuk Raja Tambun dan monumen raja Manurung.
  • Desa Madobak, Ugai dan Matotonan sebenarnya tidak didesain untuk destinasi wisata, tapi budaya tradisional dan hidup mereka sangat lestari dan unik, membuat desa ini menarik perhatian wisatawan. Terletak di hulu sungai Siberut Selatan. Untuk mencapai desa ini Anda mulai dari Muara Siberut, Anda harus mengambil rute Purou-Muntei-Rokdok-Madobak-Ugai-Butui-Matotonan. Setiap desa memiliki keunikan budaya masing-masing. Madobak, contohnya sangat terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk yang dingin. Air terjun ini memiliki dua tingkatan dengan tinggi 70 meter. Setiap desa juga terkenal dengan rumah tradisionalnya, secara lokal dikenal dengan Uma, dan upacara tradisionalnya yang dipentaskan oleh Sikerei atau Shaman
  • Desa Wisata Rantih  terletak sekitar 12 kilometer dari Sawahlunto, berada di Kecamatan Talawi. Dengan perbukitan dan Sungai Ombilin yang melintasinya, menjadikan Desa Rantih sebagai desa wisata yang layak anda kunjungi di Sumatera Barat. Anda bisa melakukan arung jeram, trekking dan kemping di sekitar 4 air terjun di Desa Wisata Rantih.

Jawa:

  • Desa Baduy, terletak di perbukitan Gunung Kendeng, sekitar 75 kilometer arah selatan Rangkasbitung, Banten. Bagi mereka yang memiliki naluri berpetualang mungkin akan merasakan trekking di desa Baduy sangat memukau. Kehidupan keseharian masyarakat Baduy yang memegang teguh adat istiadat merupakan daya tarik tersendiri bagi Anda yang berminat menelusuri budaya unik kearifan lokal yang luar biasa ini. Kawasan Baduy tepatnya berada di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini berada sekitar 38 km dari ibu kota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, atau sekitar 120 km dari Jakarta. Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy. Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya. Kampung Baduy Luar sering disebut kampung panamping atau pendamping, yang berfungsi menjaga Baduy Dalam.
  • Desa Ciwidey, Kabupaten Bandung, Anda dapat mengunjungi setidaknya lebih dari 10 desa wisata. Desa-desa tersebut memiliki karakteristik khusus dan tradisi Sunda yang khas, sekaligus Anda dapat menikmati pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. Setiap desa wisata di Kabupaten Bandung ini memiliki keunggulan dan daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Ini merupakan sebuah alternatif dalam mengisi jadwal liburan akhir pekan Anda. Nah, salah satu yang perlu Anda kunjungi adalah Ciwidey. Sebuah daerah tujuan wisata yang cukup lengkap di Bagian Selatan Kabupaten Bandung. Anda mungkin mengenal Kawah Putih Ciwidey, sebuah tempat yang wajib dikunjungi dan sering diabadikan dalam foto prawedding atau video klip.
  • Pangalengan adalah kota kecil sekitar 45 km dari Bandung ke arah selatan yang berhawa sejuk dan kaya dengan keindahan alam. Pangalengan terkenal penghasil aneka sayuran hijau yang dikirim ke beberapa kota di Indonesia. Pangalengan terkenal sebagai daerah pertanian, peternakan serta perkebunan teh dan kina yang dikelola oleh PTPN dan daerah penghasil Susu Sapi. Di wilayah ini banyak sekali industri-industri yang mengolah Susu Sapi menjadi produk-produk makanan seperti  permen susu atau sering disebut caramel, kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, dan noga susu.
  • Desa Cinunuk di Kecamatan Cileunyi berada di timur Kabupaten Bandung. Memiliki tempat wisata seni dan budaya di Jalan Cijambe-Cibolerang, Kampung Cibolerang No. 52, RT 1, RW 9. Kampung Seni dan Wisata Manglayang merupakan tempat untuk menikmati seni dan budaya Sunda dalam nuansa alam dan tradisi bersahaja. Kampung seni ini tepat berada di kaki Gunung Manglayang dengan luas 1,8 hektar. Di sini Anda dapat mencicipi makanan khas tradisional Sunda seperti bengkerok, keripik singkong, peuyeum, dan ranginang. Di malam Minggu, Anda dapat menikmati beragam pertunjukan budaya Sunda. Pekan pertama pertunjukan wayang golek, pekan kedua seni benjang, pekan ketiga ketuk tilu, dan pekan keempat menampilkan seni tradisional dan modern misalnya pop Sunda. Acara digelar dari pukul 8 malam hingga tengah malamnya.
  • Kelurahan Jelekong merupakan salah satu dewa wisata yang memiliki rumah adat dan seni lukis yang akan memukau Anda. Tempat ini terkenal sebagai gudangnya pedalang wayang golek, tukang lukis, dan makanan tradisional Sunda. Khusus seni budaya pedalangan, dari tempat ini telah menelurkan dalang-dalang handal keturunan Abah Sunarya, salah satunya yang ternama adalah Asep Sunandar Sunarya. Seakan mirip Ubud Bali yang menjadi gudang seniman handal maka seniman Giriharja Jelekong terkenal sebagai seniman wayang golek, seni lukis, serta sejumlah kesenian lainnya seperti sisingaan, jaipongan, pencak silat, dan lainnya. Desa wisata Jelekong pastinya terkenal sebagai tempat pelukis handal di Bandung.
  • Desa Ciburial berada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Dago Pakar) yang merupakan hutan konservasi dan memiliki tempat wisata alam yang menarik. Beberapa tempat yang dapat Anda kunjungi sekitaran Desa Wisata Ciburial adalah air terjun Curug Omas, Curug Lalay, Curug Dago, Patahan Lembang, Gua Jepang, Gua Belanda, dan beberapa prasasti bersejarah. Di tempat ini terdapat sarana bermain dan belajar untuk anak-anak, serta pelatihan khusus cara pembudidayaan lebah madu.
  • Desa Pasanggrahan terletak di ketinggian sekitar 900 dpl dengan jumlah penduduk sekitar 2.900 jiwa, merupakan kawasan pertanian dengan budi daya cengkih, padi, sayur mayur. Yang menarik juga, desa ini adalah salah satu desa pemukiman dengan organisasi penduduk yang tertata dengan baik, serta daya tarik lain berupa arsitektur Sunda, yaitu rumah panggung terbuat dari bahan bangunan kayu.
  • Desa Wisata Sari Bunihayu terletak di Kec. Jalancagak Kab. Subang, berdekatan dengan pemandian air panas alam Sari Ater dan objek wisata Gunung Tangkuban Perahu. Tempat rekreasi yang nyaman, sejuk, indah dan menyenangkan di lingkungan alam pedesaan, udaranya yang bersih, panorama yang indah mampu memberikan ketenangan, kesegaran alam pegunungan bagi pengunjung.
  • Desa Wisata Wangunharja Pengunjung dapat menyaksikan aktivitas keseharian masyarakat desa tersebut sambil menikmati suasana perdesaan yang sejuk dan tenang. Desa Wisata Wangunharja pun menyediakan fasilitas penginapan bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana desa. Setiap tahunnya di desa tersebut diadakan acara pesta rakyat yaitu Ruatan Bumi yang telah dikemas dalam suatu paket wisata.
  • Selain kampung wisata, propinsi Jawa Barat juga memiliki Kampung Adat seperti Kampung Pulo (Garut) dan Kampung Naga (Tasikmalaya), daftar selengkapnya silahkan berkunjung ke sini.
  • Yogyakarta sendiri memiliki banyak desa wisata, yang paling terkenal adalah Kampung Prawirotaman. Desa Wisata tidak hanya di kota Yogyakarta saja tetapi juga di kota Sleman, Bantul, Kulon Progro dan Gunung Kidul.  Silahkan langsung ke TKP untuk mengenal desa wisata di DIY.
  • Jawa Tengah memiliki 7 desa wisata yaitu: Desa CandirejoDiengDuwetKarangbanjar, Karumunjawa, Selo Wonolelo dan Ketenger-Banyumas.

Bali dan Nusa Tenggara:

  • Prailiu adalah sar penduduk lokal menganut agama Kristen, mereka masih mengikuti tradisi-tradisi lokal berdasarkan agama asli mereka yaitu Marapu. Rsalah satu desa tradisional yang eksotis di Sumba. Terletak di pinggiran kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur sekitar dua kilometer dari pusat kota. Meskipun pembangunan berjalan dengan pesat, namun rumah-rumah tradisional berarsitektur tinggi dan beratapkan daun masih dapat Anda ihat di sini meski beberapa di antaranya sudah beratap seng dengan desain yang berbeda. Pemerintah daerah, dibantu Bank Dunia, saat ini sedang merekonstruksi rumah tradisional lokal di Prailiu.
  • Compang Ruteng terletak di pusat desa Pu’u Ruteng di Kecamatan Golo Dukal, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Batu compang dan lahan di sekitarnya itu posisinya lebih tinggi dari rumah penduduk lokal. Sebuah pohon Beringin (Ficus Benjamina) yang secara lokal dikenal sebagai Ruteng, dahulu tumbuh di tengah compang tersebut. Namun kini pohon itu sudah tidak ada lagi dan sekarang diganti dengan pohon Dadap.
  • Desa wisata Wolotopo di Flores. Aset wisata di daerah ini sangat beragam antara lain : kerajinan tenun ikat, tarian adat, rumah-rumah tradisional dan pemandangan ke arah laut. Wisata di daerah ini dikembangkan dengan membangun sebuah perkampungan skala kecil di dalam lingkungan Desa Wolotopo yang menghadap ke laut dengan atraksi-atraksi budaya yang unik. Fasilitas-fasilitas wisata ini dikelola sendiri oleh penduduk desa setempat. Fasilitas wisata berupa akomodasi bagi wisatawan, restaurant, kolam renang, peragaan tenun ikat, plaza, kebun dan dermaga perahu boat.
  • Desa Wisata di Koanara, Flores. Desa wisata yang terletak di daerah wisata Gunung Kelimutu ini mempunyai aset wisata budaya berupa rumah-rumah tinggal yang memiliki arsitektur yang khas. Dalam rangka mengkonservasi dan mempertahankan rumah-rumah tersebut, penduduk desa menempuh cara memuseumkan rumah tinggal penduduk yang masih ditinggali. Untuk mewadahi kegiatan wisata di daerah tersebut dibangun juga sarana wisata untuk wisatawan yang akan mendaki Gunung Kelimutu dengan fasilitas berstandar resor minimum dan kegiatan budaya lain.
  • Kampung Sade terletak di Lombok tengah dengan luas 6 hektar dan berpenduduk sekitar 700 jiwa, dikenal sebagai perkampungan suku Sasak yang masih mempertahankan dan memegang teguh tradisi budayanya.

Kalimantan:

  • Desa Pampang  adalah sebuah desa budaya yang berlokasi di Sungai Siring, Kota Samarinda,Kalimantan Timur dan merupakan objek wisata andalan kota Samarinda. Desa ini merupakan kawasan cagar budaya yang memperlihatkan kesenian serta kebudayaan, dan menjadi tempat tinggal masyarakat suku Dayak Kenyah.
  • Pasar Terapung Muara Kuin  merupakan salah satu bentuk pola interaksi jualbeli masyarakat yang hidup di atas air. Pasar ini dimulai setelah shalat Subuh dan akan berakhir ketika matahari telah beranjak naik atau sekitar jam 09.00 Wita. Apabila lewat dari jam tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasar bakal sepi. Hal ini dikarenakan para pedagang telah berpencar menyusuri sungai-sungai kecil, untuk menjual barang dagangnya kepada penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai.

Sulawesi:

  • Desa Lakkang merupakan daerah konservasi yang tetap dipelihara kelestarian lingkungannya, meski berada di Kota Makassar. Desa yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan, merupakan desa terbelakang dan terisolasi ini cukup unik. Karena tidak ada akses jalan atau jembatan untuk menuju ke sana. Bagi siapa saja yang hendak masuk atau keluar desa mesti menyeberangi Sungai Tallo yang memisahkannya dengan daerah lain. Pemkot Makassar mengembangkan Desa Lakkang menjadi Desa Wisata sekaligus kawasan konservasi lingkungan kota.
  • Kampung Bone adalah pelopor kampung ANTI NIKOTON, di kampung ini terdapat Peraturan Desa yang melarang warganya untuk merokok, demikian juga dengan wisatawan yang berkunjung. Selain bebas asap rokok, kampung ini juga sangat religious. Syariat Islam dijalankan dengan baik, setiap adzan berkumandang maka seluruh kegiatan akan dihentikan dan mereka sholat berjamaah. Kampung Bone terletak di lereng Gunung Latimojong, 2.500 mdpl, udaranya masih bersih dan segar.

Papua:

  • Desa Arborek sebagai pelopor di antara 18 desa yang indah di Papua Barat  yang telah memulai pengembangan konservasi lokal kekayaan laut berbasis masyarakat, Desa Arborek telah mendapatkan reputasi yang luar biasa diantara otoritas lokal dan masyarakat internasional. Dengan bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pusat penelitian, dan organisasi non-pemerintah, masyarakat lokal di desa ini telah berhasil merumuskan peraturan daerah, penamaan kawasan konservasi mereka yaitu, Mambarayup dan Indip.
  • Desa wisata Sauwandarek terletak di bagian barat Waisai, ibu kota kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Desa ini merupakan bagian dari kabupaten Mansar Meos. Rumah di desa wisata ini dihuni sebanyak 46 keluarga atau sekitar 179 penduduk yang masih tinggal di dalam rumah yang beratapkan daun jerami. Di desa ini, perempuan, khususnya kaum ibu, memproduksi topi dan tas yang terbuat dari daun pandan laut. Desa ini terkenal dengan karangnya yang indah. Selain itu, ada sebuah danau asin lokal yang disebut Telaga Yenauwyau, yang terletak di belakang desa.

Selamat berpeteualang dari desa ke desa 😉

13 thoughts on “Jalan-Jalan ke Desa Wisata”

    1. salam kenak kagem purawisata yogya. jadi kangen pengen nonton ramayana ballet lagi ^_^

      iya nih, lum pernah main ke desa wisata jogja. sering ke jogja tapi cuma numpang lewat 🙁

Leave a Reply