Panduan Wisata ke Lombok (Perjalanan LaKer’s)

Yei yeii… Lakers Mengguncang Lombok^^

Berdasarkan info yang telah kami kumpulkan (Panduan Wisata Lombok – Persiapan Ke Lombok) sebelumnya, maka kami mulai menyusun daftar tujuan wisata di Lombok. Itinerary Lombok tersusun rapi berdasarkan kedekatan lokasi. Saya yang datang terlebih dahulu bertugas segera check in di homestay karena menurut info walaupun sudah booking kadang-kadang ada homestay/penginapan yang menjual kamar ke orang yang datang terlebih dahulu. Penginapan murah dengan lokasi tidak jauh dari Pasar Seni Senggigi menjadi pilihan, Homestay Sonia. Pemiliknya bernama Ibu Maria, beliau sangat ramah dan memiliki menu sarapan pancake terenak yang pernah saya makan. Kamarnya sempit dengan kamar mandi hanya dengan tirai/gorden, untuk sholat kami harus ke bagian belakang rumah di sebuah rumah panggung sederhana yang sepertinya multifungsi. Eksotik bukan? 😛 harga penginapan plus pancake lezat itu hanya Rp. 80.000/malam, kamar yang di isi ber-3 menambah Rp. 20.000/kamar. Untuk mobil kami memilih menggunakan mobil Pak Eko dengan pertimbangan tidak ada pembatasan waktu (24 jam harga 450 ribu).

Tujuan Wisata LaKer’s di Lombok (garis biru)

Siapkan cemilan dan minuman karena ceritanya sangat panjang 😉

Berikut ini kegiatan kami di Lombok 21 – 22 Oktober 2010:

Kamis, 21 Otober 2010:

Menikmati sore di pantai senggigi

12.30 – 15.30 : Jakarta – Mataram

15.30 – 16.00 : Bandara Ampenan – Homestay Sonia.

Naik taxi hmm… saya lupa tarifnya, sekitar Rp. 35.000 – Rp. 40.000

16.00 – 18.00 : Sholat, menikmati matahari sore di pantai senggigi, naik angkot ke Malimbu, naik taxi ke Mataram Mall

18.00 – 20.00: Jalan-jalan di Mataram Mall.

Satu-satunya mall yang ada di Mataram. Cukup tepat untuk mencari makanan standar (KFC & McD) bahkan NAV juga ada. Di sekitar mall juga banyak tempat makan, yang suka makanan khas mataram bisa mampir warung Dirgahayu tepat di samping mall, yang suka makanan jawa timuran juga banyak warung tenda, Pizza Hut juga ada. Kalau ada yang mau facial ada LBC di depan mall Mataram. Komplit kan? Sekitar jam 8 saya kembali ke penginapan menunggu rombongan yang lain, naik taxi sendirian juga aman, saya pilih bluebird tentu saja. Ternyata… penerbangan dari Surabaya delay, akhirnya teman-teman yang dari Jakarta menunggu teman kami dari Surabaya di bandara hingga tengah malam.

00.00 – 01.00: Makan malam seru di warung pecel lele, cukup Rp. 113.000 saja untuk ber-8

Jum’at, 22 Otober 2010:

05.00 – 08.00 : Sholat, mandi, menikmati pagi di pantai Sengigi.

Awalnya kami berencana berangkat ke Pemenang pukul 7 agar dapat menyeberang ke Gili trawangan sepagi mungkin, namun sayang Ibu maria menyiapkan sarapan agak lama. Tidak mau membuang waktu lebih lama pancake tersebut kami bungkus sebagai bekal di jalan agar tidak kesiangan. Lain kali kalo menginap disini minta dibuatkan sarapan lebih pagi.

08.00 – 10.00: Senggigi – Pemenang.

Karena beberapa bagian jalan di Malimbu sedang ada perbaikan sopir angkot yang kami carter memilih rute hutan pusuk. Nilai tambahnya kami dapat sambutan meriah dari monyet-monyet di hutan pusuk, namun jalanan yang berkelok cukup membuat pusing juga karena tempat duduk kami berhadap-hadapan. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam, kemudian dilanjutkan naik cidomo (WAJIB) menuju darmaga dengan tariff Rp. 5.000/orang. Setelah membeli tiket penyeberangan Bangsal  – Trawangan seharga Rp. 10.000/orang kami mengisi perut dulu dengan sarapan di warung-warung makan sekitar pelabuhan Bangsal, rasanya… sangat tidak direkomendasikan!

Selamat Datang di Gili Trawangan

10.00 – 10.30 : Pelabuhan Bangsal – Gili Trawangan.

Setiba di Gili Trawangan kami diminta ke pos jaga untuk di data. Kami ditawari penginapan tidak jauh dari pantai, namanya Permata Bungalow dengan harga Rp 150.000/malam bisa di isi ber-3 tanpa sarapan pagi. Kamar mandinya seksi, seperti di Hotel Lor In Belitung kamar mandi Permata Bungalow juga tanpa atap. Air-nya asin, jadi sebaiknya siapkan air mineral untuk sikat gigi.

Menikmati Kecantikan Gili Air (foto: danang)

10.30 – 11.30 : Ikut berjemur di Gili Trawangan

bedanya… kalo bule-bule mengenakan bikini kami berbusana syar’i hehehe… Menjelang sholat Jum’at kami kembali ke penginapan.  Karena kesiangan perahu yang melayani rute gili trawangan – gili meno – gili air sudah tidak ada lagi. Entah kami yang tidak bisa menawar atau memang sudah kepepet kami menyewa perahu dan snorkel seharga Rp. 900.000. Padahal jika menggunakan perahu yang melayani rute gili trawangan – gili meno – gili air biayanya lebih murah, sekitar Rp. 50.000 – Rp. 75.000.

Mencari Javier Bardem di Gili Meno *korban EatPrayLove*

13.30 – 17.00 : Gili Trawangan – Gili Meno – Gili Air.

Gili Meno dan Gili Air jauh lebih sepi dari Gili Trawangan, hanya terlihat beberapa cottage di sini. Jika ingin ber-kontemplasi Gili Meno dan Gili air menjadi tempat yang tepat. Bahkan di akhir cerita Eat, Pray and Love, Elizabeth Gilbert di ajak “Let’s cross over” alias “Attraversiamo” oleh Felippe ke Gili Meno lho.

Foto-foto underwater Gili Trawangan – Gili Meno – Gili Air.

17.00 – 19.00: Mandi, sholat dan makan malam. Tidak jauh dari penginapan kami terdapat rumah makan lumayan besar. Rasanya biasa saja, cukup untuk mengganjal perut-perut yang kelaparan.

19.00 – 21.00: Menikmati malam di Gili Trawangan.

Mendadak kami menjadi turis asing di negeri sendiri, sepanjang jalan yang kami lewati selain penduduk lokal Trawangan yang berjualan kami hanya bertemu dengan warga negara asing. Bar dan café bertebaran sepanjang jalan, suara music yang berdentum dan keriuhan pengunjungnya sangat tidak cocok untuk wisatawan yang ingin mencari ketenangan. Kami hanya berjalan-jalan tidak berani mampir ke salah satu café-nya, takut tidak sanggup bayar 🙁

Sabtu, 23 Oktober 2010:

Hello Sunrise, Selamat Pagi Gili Trawangan

05.00 – 09.30: Usai sholat subuh, tanpa mandi terlebih dahulu kami segera menuju tempat penyewaan sepeda. Jika malam harinya kami menyusuri jalanan yang penuh bar dan café maka pagi harinya kami berlawanan arah menuju sisi Trawangan yang lebih sepi. Awalnya kami bersepeda cukup mulus namun makin mendekati PLN sub ranting Gili Trawangan jalanan mulai berpasir sehingga cukup berat untuk mengayuh sepeda.

Bersepeda di Gili Trawangan

Saya yang pemalas memilih berhenti di sebuah cottage dengan pantai yang penuh serpihan karang putih lucu. Menikmati pagi yang sepi dengan memandangi pantai dengan airnya yang sangat tenang membuat saya betah di sini, andai saja tiap pagi bisa menikmati hal seperti ini. Adakah yang mau menghibahkan salah satu cottage Gili Trawangan untuk saya tinggali? Mimpi! Rasa lapar mengumpulkan kami kembali menuju Warung Dewi yang menyediakan nasi pecel, nasi rawon, masakan khas Lombok dan aneka minuman. Selesai sarapan seharga 120 ribu (untuk ber-8) kami kembali ke penginapan untuk bersiap check out. Yang terlupakan adalah… kami tidak mencatat nomor telfon pemilik Permata Bungalow!

Foto-foto gili trawangan – gili meno – gili air

09.30 – 10.00: Gili Trawangan – Bangsal

10.00 – 12.00: Bangsal – Air Terjun Sendang Gila – Tiu Kelep

Mobil inova yang kami sewa sudah menunggu, sopirnya, Pak Din sangat ramah. Perjalanan menuju Air Terjun Sendang Gila yang terletak di desa Senaru, kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara membutuhkan waktu 2 jam. Pemandangan sepanjang perjalanan beraneka ragam mulai pantai-pantai indah, perbukitan, sawah, sungai hingga orang mandi tanpa sehelai benangpun 😀

Air Terjun Sendang Gila (gile)

12.00 – 13.40: Makan siang, Sholat dan di rayu tourguide.

Begitu pintu mobil dibuka seorang pemuda yang mengaku sebagai tourguide langsung menawarkan jasanya. Selesai makan dan sholat di sebuah restaurant dekat pintu masuk sendang gila kami di minta ke posko mereka, mereka menawarkan jasa tourguide Rp. 75.000. Murah sekali bukan? SALAH!! Karena harga tersebut hitungan per orang. Tawar menawar tidak menemukan titik temu sampai akhirnya kami memilih TIDAK MENGGUNAKAN JASA TOURGUIDE dan membayar Rp. 100.000 entah untuk apa karena selembar tiketpun tidak kami peroleh.

13.40 – 14.00: Perjalanan menuju Air Terjuan Sendang Gila (dibaca Gile)

Jalan menuju air terjun sendang gila merupakan jalan setapak yang sudah di semen, jaraknya tidak jauh dari pintu masuk air terjun, namun kami sempat berhenti di gazebo karena hujan deras yang tiba-tiba turun. Air terjun sendang gila terletak di ketinggian 600 m di atas permukaan laut (dpl) dan memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter

14.00 – 14.30: Menikmati keindahan Air Terjun Sendang Gila

Menuju Air Terjun Tiu Kelep

14.30 – 15.00: Perjalanan menuju Air Terjun Tiu Kelep

Perjalanan menuju Tiu Kelep cukup menantang, menaiki tangga terjal, melewati jembatan berlubang dengan salah satu sisinya tanpa pagar, jalanan landai kemudian bertemu sungai dengan bebatuan yang licin dan beberapa arus yang cukup deras. Salah seorang teman sempat terpeleset. Yang harus selalu diingat ketika pergi berombongan tanpa signal telfon adalah TIDAK BOLEH TERPISAH. Kami terpisah 2 rombongan karena saya menunggu teman yang terpelesat dan tasnya tercebur ke sungai, ber-3 kami jalan sangat berhati-hati mencari arus yang tidak terlalu deras sementara ke-5 teman kami yang lain sudah jauh di depan. Beruntung kami bertemu rombongan lain yang kembali dari Tiu Kelep, mereka menunjukkan jalan untuk kembali menyeberang sungai menuju jalan setapak, hasilnya…. Walaupun sudah tertinggal kami dapat mencapai Tiu Kelep bersamaan dengan rombongan depan yang terus menyusuri sungai.

Air Terjun Tiu Kelep

15.00 – 16.30: Menikmati Air Terjun Tiu Kelep

Air terjun Tiu Kelep memiliki ketinggian 40 meter dan bertingkat, jika dalam kondisi hujan deras sebaiknya dibatalkan saja perjalanan ke Tiu Kelep mengingat derasnya arus disini. Airnya cukup dingin namun cukup menggoda untuk menikmati shower alami, bagi yang ingin berbasah-basahan sebaiknya siapkan baju ganti. Kurang lebih 30 menit saja kami di Tiu Kelep selanjutnya kami kembali ke restaurant tempat parker mobil untuk ganti baju dan bersiap meninggalkan Desa Senaru.

Foto-foto Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep

16.30 – 19.00: Kembali ke Senggigi

Setelah memilih beberapa penginapan di sepanjang jalan raya senggigi akhirnya kami memilih Hotel Ray, dengan tarif Rp. 350.000 untuk 3 kamar sudah dapat sarapan pagi. Murah kan? 1 Kamar bisa di isi ber-3 dengan fasilitas kamar mandi dan kipas angin. Sudah cukup untuk kami merebahkan badan dan meluruskan kaki yang pegal-pegal.

19.00 – 21.00: Makan malam mahal di Yessy Caffe

Letaknya tidak jauh dari homestay Sonia tempat kami menginap sebelumnya, menu-menu yang ditawarkan juga beragam. Tentu saja kami harus memesan makanan khas Lombok, plecing kangkung dan ayam taliwang. Untuk makan ber-9 (dengan sopir) kami harus merogoh kantong lebih dalam, Rp. 548.000.

Minggu, 24 Oktober 2010

Peta Menuju Gili Nanggu (dari Senggigi)

05.00 – 09.00: Sholat, jalan-jalan sekitar senggigi, sarapan, checkout.

Sebenarnya kami merencanakan untuk checkout sepagi mungkin karena tujuan kami hari ini adalah Gili Nanggu yang letaknya cukup jauh, namun seperti biasa seorang teman kami sangat santai (jitak samhoed) sehingga terpaksa molor.

09.00 – 10.00: perjalanan senggigi – gili nanggu.

Gili Nanggu terletak di Sekotong, kabupaten Lombok Barat, kurang lebih 50 Km di selatan kota Mataram. Bagi wisawatan dari Bali bisa berlabuh Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Taun. Dari kedua pelabuhan itu, waktu tempuhnya dengan menggunakan speed boat atau perahu motor milik nelayan, sekitar setengah jam.

10.00 – 15.00: keliling gili nanggu – gili sundak – gili kendis

Perahu u’ keliling Gili Nanggu – Sundak – Kedis

Di Sekotong terdapat banyak Gili seperti Gili Genting, Gili Lontar, Gili Gede, Gili Kedis, Gili Sudak, Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Berairan, Gili Amben, Gili Asahan, Gili Layar, Gili Renggit, Gili Goleng, Gili Anyaran, dan Gili Poh. Namun sebagian besar tanpa penghuni, hanya Gili Layar, Gili Asahan, dan Gili Gede saja yang berpenghuni. Kami menyewa perahu seharga Rp. 350.000 dan snorkel seharga Rp. 250.000. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman karena tidak ada pedagang asongan di gili-gili.

  • Gili Nanggu: Terdapat cottage yang dimiliki orang lokal bernama Eddy Dharma, sayang kami tidak memiliki nomor telepon-nya. Nomor telepon yang ada terhubung ke travel agent Lombok. Tarif kamarnya ada yang Rp 100 ribu, Rp 200 ribu dan Rp 250 ribu. Harga ini sangat tergantung dari fasilitas yang disediakan. Jika mau ber-AC, harganya Rp 250 ribu. Sedangkan yang Rp 100 ribu, airnya payau dan fasilitas seadanya. Harga ini belum termasuk makan, minum dan trasportasi. Kalaupun belum booking sepertinya bisa langsung pesan kamar di sini karena banyak kamar dan wisatawan di gili nanggu tidak seramai gili trawangan.  Kami menikmati gili nanggu dengan snorkeling, ikan-ikan dan karang cantik sudah terhampar tidak jauh dair pantai.
  • Gili Sundak: Main pasir, sunbathing, snorkeling atau hanya sekedar bermain air semua bisa dilakukan dengan leluasa karena lokasinya yang sepi. Perbukitan hijau yang tersaji didepan mata dan pepohonan yang rindang di sekeliling gili sundak juga bikin betah.
  • Gili Kedis: Gili kedis sangat imut, kecil sekali, luasnya hanya sekitar lapangan bulutangkis, dikelilingi jalan kaki hanya butuh waktu 3 menit. Pemandangan di gili kendis sangat indah, kita bisa memandang Gunung Agung Bali, perbukitan, lautan yang biru jernih.  Tidak seperti Gundukan Pasir Kosong di Belitung dan Karimunjawa, Gili kedis yang berpasir putih halus ditumbuhi sedikit rumput dan semak dan di beberapa bagian terdapat batuan yang terhampar “ganteng” (sekali-kali make ganteng #eaaa) pas sekali untuk ber-pose 😉 Sebagian dari kami memilih untuk foto-foto, tiduran dan main pasir, ada juga yang snorkeling. Gili Kedis menjadi gili terfavorit saya 😉
Gili terfavorit saya: Gili Kedis Lombok

Foto-foto Gili Nanggu – Gili Sundak – Gili Kedis

15.00 – 16.00: Sholat dan makan tidak jauh dari tempat parkir mobil. Masjidnya besar, bisa numpang mandi juga. Kami makan di warung jawa dengan sambal yang ueeenaaaak sekali.

16.00 – 18.30: perjalanan dari sekotong – pantai kuta Lombok.

Perjalanan kurang lebih 2 jam, selanjutnya kembali door to door mencari penginapan. Kami dapat Ketapang Homestay & Café yang terletak tepat di tepi jalan sebelum belok kiri ke pantai kuta Lombok. Hanya tersedia 2 kamar, Rp. 400.000 untuk 2 malam.

18.30 – larut malam: mandi, sholat,makan malam, main monopoli, ngobrol asyik lanjut istirahat.

Senin, 25 Oktober 2010:

Pantai Kuta Lombok (dari jalan menuju mawun)

05.00 – 08.00: Rencananya usai sholat subuh mau langsung nikmatin sunrise di pantai kuta Lombok, tetapi efek begadang membuat kami bermalas-malasan. Jam 7, 4 buah motor telah tersedia dengan sewa Rp. 50.000/motor untuk 24 jam tanpa bensin. Kami membeli bensin di depan homestay seharga Rp. 60.000 untuk 4 motor. Tujuan kami hari ini adalah pantai mawun dan mawi.

08.00 – 08.30: Perjalanan Pantai Kuta – Pantai Mawun. Beberapa kali berhenti karena pemandangan indah sepanjang jalan yang sangat sayang kalo dilewatkan tanpa berpose 😉

cantiknya pantai mawun lombok

08.30 – 10.00: Menikmati pantai mawun.

Pantai mawun merupakan pantai berpasir coklat kasar dengan bukit di kanan kiri pantai yang membentang hingga tengah laut sehingga ketika berdiri di tengah pantai tampak di depan seperti ada pintu gerbang tanpa pagar. Mendadak kami menjadi pemilik pantai mawun karena tidak ada wisatawan lainnya. Semua yang ada di pantai ini seolah sebuah studio foto alami yang akan terlihat cantik dari berbagai sudut, pintu gerbang pantai dikejauahan, kayu besar yang teronggok begitu saja di pantai, latar belakang bukit, garis pantai yang melengkung indah, bunga ungu yang terhampar sepanjang pantai bahkan rumah sederhana dari anyaman bamboo-pun tak kalah eksotis. Karena belum sarapan kami memesan mie, walaupun mie belum terlalu matang dan mie goreng-nya berkuah kami tetap menyantap dengan lahap dengan penuh syukur. Bersyukur karena di tempat yang sepi dah jauh ini masih ada rumah penduduk yang berjualan mie goreng kuah 😀

Pantai Mawi Lombok (dari bukit)

10.00 – 10.30: Perjalanan Pantai Mawun – Pantai Mawi. Ada pantai yang terlewatkan di antara pantai mawun dan mawi, entah apa nama pantainya. Perjalanan ke pantai Mawi cukup membuat jantung berdegup karena ada sebagian jalan yang turun kelak kelok dengan jalanan aspal-nya berpasir.

10.30 – 11.30: Kembali kami mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Pantai mawi ternyata menjadi tempat bule-bule surfing. Di kanan kiri pantai mawi terdapat perbukitan, di tengah laut yang berombak cukup besar terdapat bukit kecil dan tidak jauh dari bukit tersebut bersandar yatch milik turis asing yang sengaja berselancar disini. Terik matahari yang menyengat membuat sebagian dari kami bermalas-malasan duduk saja di gubug pantai mawi, sedangkan saya dan titik naik ke bukit berbatu di sisi kiri pantai.

Pantai Mawi Lombok

Pemandangan dari atas bukit berbatu sangat indah dan ketika kami berjalan semakin ke ujung surga membentang di sepanjang mata memandang. Di balik bukit tempat kami beridir kam melihat tanjung mirip dengan pantai mawun namun pantainya langsung di bentengi perbukitan, di bawah kami bebatuan yang di hempas ombak dengan buih putih yang menghias batu hitam dan diantara hempasan ombak tampak beberapa orang lokal sedang memancing, di hadapan kami laut biru dengan ombak berkejaran tanpa mempedulikan perbukitan di belakangnya, di sebelah kiri kami tampak pantai mawi dengan beberapa bule hilir mudik membawa papan surfing. Tuhan yang Maha Baik…. limpahkan aku rezeki berlimbah sehingga bisa beli bukit ini dan menikmati kecantikan Mawi setiap hari, tanpa kepanasan tentu saja. Amiiiin…. Eh, dimana teman-teman saya? Saya naik ke bukit ini hanya dengan Titik, yang lain tetap duduk maniez di gubug bahkan ada yang tidur pulas! Sgghh….

Foto-foto Pantai Mawun dan Pantai Mawi

Pantai Kuta (dekat Novotel & Mandalika Resort)

11.30 – 11.45: Pantai Mawi – Pantai Kuta

11.45 – 12.30: Makan siang di warung jawa. Makanannya enak dan murah

12.30 – 15.00: Kembali ke penginapan, sholat, istirahat.

15.00 – 15.45: Pantai Seger

Awalnya saya pikir ketika belok kanan di plang bernama Pantai Seger kami hanya akan menikmati 1 pantai saja, ternyata ada beberapa lokasi cantik disini. Pantai luas namun sayang pinggiran pantainya kotor oleh rumput yang mengering, tidak jauh dari pantai terdapat jembatan dengan air yang telah surut sehingga terlihat jelas jejak alurnya di pasir dan terakhir kami sampai di bukit kecil dimana kami bisa melihat pantai Seger dari atas.

Pantai Seger Lombok

15.45 – 16.10: Pantai A’an

Pantai A’an berpasir putih halus, dari pantai A’an kami bisa melihat bukit kecil Tanjung A’an yang sangat terkenal untuk menikmati sunset. Kami menikmati pantai A’an dengan pose-pose ajaib seperti kayang bahkan koprol.

16.10 – 18.00: Tanjung A’an

Sunset & Romantisme Cinta Tanjung Aan

Menikmati sunset Tanjung A’an! Itulah tujuan utama ke Tanjung A’an. Sebelum naik ke bukit Tanjung A’an saya mengitari pinggiran bukit yang berbatu, air laut sedang surut sehingga saya bisa mengitari tempat ini untuk selanjutnya naik ke bukit menunggu matahari terbenam. Awan hitam yang menghiasi langit tak menyurutkan keinginan kami untuk tetap duduk menikmati senja yang sedikit muram dengan ditemani alunan theme song trip Lombok Bruno Mars – Count On Me. Belum sepenuhnya matahari terbenam, seorang penjaga Tanjung A’an meminta kami meninggalkan tempat karena mengkhawatirkan perjalanan kami kembali ke Kuta. Menurut Bapak penjaga, jalanan yang gelap dan sepi apalagi kami menggunakan motor sangat rawan untuk mendapat gangguan. Tidak mau mendapatkan masalah kami kembali ke penginapan.

Foto-foto Pantai Seger – Pantai A’an dan Tanjung A’an

18.00 – malam : Mandi, Sholat, kembali makan di warung jawa dan istirahat

Selasa, 26 Oktober 2010:

Goresan Warna Pagi Kuta Lombok

04.30 – 07.00: Menikmati Sunrise Pantai Kuta

Selesai sholat subuh bergegas ke pantai Kuta. Jam 5 adalah waktu yang tepat untuk mulai menyusuri pantai Kuta. Walaupun pantai masih gelap tetapi langit Kuta di pagi hari sangat menawan, mulai dari semburat ungu, pink, biru, jingga, orange, kuning keemasan hingga langit biru yang lembut dapat dinikmati mulai dari pukul 5 hingga pukul 7. Mengunjungi pantai Kuta di pagi hari juga selain mendapatkan pemndangan indah juga terbebas dari kejaran anak kecil penjaja aksesories. Mulai pukul 6 pantai Kuta mulai di datangi penduduk lokal yang entah mencari apa di sela-sela karang. Saya hanya menyaksikan aktifitas mereka dari batu karang dengan pohon monumental di pantai Kuta.

Foto-foto Sunrise Pantai Kuta Lombok

07.00 – 09.30: Mandi, Packing, Sarapan pagi di.. lagi lagi dan lagi Warung Jawa

09.30 – 11.00: Checkout menuju Kampung Sade

Berkeliling melihat kampung sade dengan penjelasan seorang guide.

11.00 – 12.00: Kerajinan Tenun Sukerare

Tidak ada yang belanja kain tenun, hanya melihat cara menenun dan menyaksikan peragaan busana oleh model kondang rudi dan titik dengan baju adat sasak.

Pengantin dengan Baju Adat Sasak

12.00 – 14.00: Perjalanan menuju Mataram, makan siang di Warung Sasak. Murah, enak dan ada mangga muaniz.

14.00 – 16.30: Beli oleh-oleh di pusat kaos yang lupa nama tempatnya dilanjutkan beli oleh-oleh di dekat Mataram Mall. Harganya sama saja, bahkan di kios-kios Mataram Mall lebih banyak pilihan.

16.30 – 18.00: Menuju Malimbu, Menikmati Sunset Malimbu.

Menikmati Malimbu dengan… nista!

18.00 – 19.30: kembali check in di Hotel Rey dan makan malam di warung seafood yang konon kabarnya di rekomendasikan lonely planet. Rasanya… hambaaaaaarrr, daripada menghabiskan Rp 234.000 (untuk ber-9) di warung cak poer lebih baik nyebrang ke warung pecel lele tempat kami makan malam pertama di Sengigi.

Rabu, 27 Oktober 2010:

05.00 – 09.00: Menikmati pagi di Senggigi

Usai sholat subuh, tanpa mandi terlebih dahulu kami naik angkot ke arah Pura Batu Bolong, tapi bukan Pura itu tujuan utama kami. Kami ingin makan jagung di tepi pantai sambil memandang Pura Batu Bolong dari jauh. Di warung pinggir jalan ini kami memesan jagung bakar, teh dan kopi. Menikmati sarapan pagi di kursi rotan yang menghadap ke pantai tanpa hiruk pikuk kendaraan sungguh sangat menentramkan.

Saya, dian, gulam dan rudi memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri pantai menuju Pura Batu Bolong, danang memilih naik angkot, sedangkan sam, titik dan mas dhian memilih tetap di warung jagung bakar. Perjalanan menyusuri pantai di pagi hari wajib diagendakan jika menginap di Sengigi, sampai di dekat Pura kami sempat bingung dengan jalan masuknya. Ternyata kami harus sedikit berjuang melewati parit dan kebun hingga akhirnya sampai di jalan raya tepat di sebelah pintu masuk Pura. Sebenarnya Pura Batu Bolong lokasi yang lebih cocok untuk didatangi sore hari sambil menikmati sunset, tapi liburan kami berakhir hari ini.

menikmati pagi di senggigi

09.00 – 12.00: Sarapan roti bakar yang disediakan Ray Hotel, packing, mandi, checkout. Dian dan titik langsung ke bandara sedangkan kami dengan tiket penerbangan lebih sore memilih ke Mataram Mall untuk makan siang sekaligus menghabiskan waktu sebelum kembali ke Jakarta.

Pengeluaran selama di Lombok

Day 1:

  • makan malam : Rp. 113.000

Day 2:

  • Sonya Homestay 3 kamar plus 1 botol besar air minum: Rp. 290.000
  • Sewa angkot ke Bangsal : Rp. 100.000
  • Cemilan : Rp. 113.000
  • Cidomo : Rp. 40.000
  • Makan di pelabuhan Bangsal : Rp. 44.000
  • Boat publik ke Gili Trawangan : Rp.  80.000
  • Sewa boat keliling gili trawangan – gili meno – gili air +snorkel : Rp. 900.000
  • Makan malam : Rp. 167.000

Day 3:

  • Sewa sepeda keliling Gili Trawangan: Rp. 120.000
  • Sarapan di warung dewi : Rp. 120.000
  • Cemilan : Rp. 24.000
  • Snorkel : Rp. 25.000
  • Penginapan Permata Bungalow Trawangan 3 kamar: Rp. 450.000
  • Boat public ke Bangsal : Rp. 80.000
  • Bensin mobil : Rp. 100.000
  • Makan siang di sendang gila : Rp.  323.000
  • Tiket sendang gila : Rp. 100.000
  • Makan malam di Yessy Cafe Senggigi: Rp. 548.000

Day 4:

  • Bayar Ray Hotel 3 kamar: Rp. 350.000
  • Cemilan : Rp. 130.000
  • Sewa snorkel di sekotong : Rp. 250.000
  • Sewa boat ke gili nanggu, sudak, kedis: Rp. 350.000
  • Tiket Gili Nanggu: Rp. 40.000
  • Makan siang di warung Jawa : Rp. 125.000
  • Beli bensin mobil : 100.000
  • Bayar rental mobil 2 hari : 900.000
  • Makan malam di ketapang homestay : 175.000

Day 5:

  • Sarapan mie wawun: Rp. 85.000
  • Bensin motor : Rp. 60.000
  • Makan siang di warung jawa : Rp. 122.000
  • Parkir pantai mawie : Rp. 10.000
  • Parkir Tanjung A’an : Rp. 10.000
  • Rental 4 motor : Rp. 200.000
  • Makan malam di warung jawa : Rp. 134.000

Day 6:

  • Bayar Ketapang Homestay 2 kamar 2 malam: Rp. 400.000
  • Sarapan mie di warung jawa: Rp. 68.000
  • Tip guide Kampung Sade : Rp. 50.000
  • Beli bensin mobil : Rp. 100.000
  • Minum : Rp. 21.000
  • Makan siang di RM Sasak : Rp. 193.000
  • Bayar Ray Hotel 3 kamar 1 malam: Rp. 300.000 (diskon 50.000!)
  • Suvenir untuk teman : Rp. 55.000
  • Makan malam di warung cak poer : Rp. 234.000
  • Rental mobil dan tip sopir pak din : Rp. 550.000

Day 7:

  • jagung bakar+angkot : Rp. 74.000

karena setelah checkout kami berpisah maka ongkos taxi dan makan siang jadi hitungan perorangan.

Total pengeluaran di Lombok selama 6N7D ber-8 : Rp. 8.823.000,-

Pusat oleh-oleh Lombok:

  1. Sukarara (tenun)
  2. Sekarbela (mutiara)
  3. Banyumulek, Penunjak, Masbagik (Keramik)
  4. Dusun Sade (tenun)
  5. Pasar Cakranegara (kaos, cinderamata, dll)
  6. Toko oleh-oleh di dekat Mataram Mall (cilinaya shoppping centre)
  7. Toko di sepanjang Pantai Senggigi

Makanan khas Lombok:

  1. Plecing Kangkung
  2. Ayam Taliwang
  3. Sate Bulayak, sate dari daging sapi yang dilumuri bumbu khas Sasak, bulayak = lontong yang dibungkus dengan daun aren, bentuk memanjang seperti spiral (orang jawa bilang lepet)
  4. Sate Tanjung, Sate tanjung berasal dari ikan Cakalang atau ikan Langoan
  5. Beberuk Terong, terong ungu yang dipotong dadu, tomat dan bumbu khas. cocok sebagai teman makan ayam taliwang
  6. Ares, sayuran khas Lombok yang bahan utamanya berasal dari pelapah atau gedebok pisang yang masih muda dengan bumbu kuah mirip kare (makanan tradisional Suku Sasak)
  7. Tahu Lombok (mirip tahu lembang, kuahnya enak gak tau bikin dari apa)

Oleh-oleh khas Lombok:

  1. Dodol Rumput laut
  2. Terasi Lombok
  3. Mutiara
  4. Kain tenun sasak
  5. Madu Sumbawa
  6. Telur asin
  7. Krupuk Kaki Ayam

29 thoughts on “Panduan Wisata ke Lombok (Perjalanan LaKer’s)”

  1. kalo naek perahu yang melayani rute gili trawangan – gili meno – gili air biayanya lebih murah, sekitar Rp. 50.000 – Rp. 75.000 itu sdh termasuk snorkeling blm ya?

    1. aku baca tulisannya, sepertinya sempet ketinggalan jadwal kapal umum gili trawangan meno dan air ya, klo bole tau jam berapa saja jadwal kapal tsb jalan?

      thx

  2. kalo yang perahu yang melayani rute gili trawangan – gili meno – gili air biayanya lebih murah, sekitar Rp. 50.000 – Rp. 75.000 itu udah termasuk snorkeling belum ya dan apa hrs disewa dulu atau enggak ya? thanks

    1. setelah sampai di trawangan langsung aja cari kapal u’ keliling ke 3 gili, 50-75rb itu harga/orang berangkat bersama rombongan lain. kalo mau sewa u’ sendiri ya berarti hitungannya sewa 1 perahu. harga belum termasuk snorkel. yg penting pinter nawar (jangan keq saya dan temen2^^)

      1. mau tanya kalian menginap ditempat yang berbeda yah…trus booking terlebih dahulu atau bayar ditempat?
        dan saat jalan2 dibawa tas2nya?

        1. tergantung tempat penginapannya, minta DP atau enggak. amannya kasih DP biar pemilik penginapan enggak menjual ke orang lain.
          selama jalan-jalan2 tas ada di penginapan, dibawa cuma saat berpindah tempat. misalnya check out dari penginapan di senggigi qt bawa tas ke trawangan, taro tas di penginapan (trawangan) baru jalan2 lagi).

  3. keren banget ini…
    insya allah senin aku mulai tracking ke sumbawa – lombok,
    thanks infonya ya…
    #pesimis akhir taon ini fully booked semua kaya’nya,

  4. wah lumayan lancar juga itu jalan-jalannya..
    kami juga baru liburan natal ini kesana, kami ber-empat, lokal 2 dan bule 2, sebelum nya kami berharap ini akan menjadi liburan paling berkesan tahun ini.

    tetapi…

    rencana kami disana selama 1 minggu gili trawangan 3h2m dan lombok 3h2m. tetapi baru 4 hari disana kami sudah memutuskan pulang ke Bali.

    saya akui lokasinya ok banget, pantai pasir putih, sorganya para snorkler deh.. tapi kami kecewa sama sekelompok orang di pelabuhan terutama B***sal (mau nyebrang ke gili trawangan), bukan masalah harga tetapi sama sikap nya.

    jelas jelas kami sudah beli tiket public boat, dan ketika kami menolak tawaran dari beberapa orang tersebut untuk menggunakan perahu mereka(carter), mereka mulai berbicara kasar.. dan sangat tidak enak kami dengar(saya orang bali, jadi sedikit2 kami mengerti apa yg mereka katakan). kami mulai ilfil, dan akhirnya memutuskan pulang sebelum waktunya.

    semoga yang lain tidak mengalamai hal yang sama.. met traveling and happy new year 2012…

    1. thx 4 sharing bli eka,
      wah sayang sekali ya ada pengalaman yg kurang mengenakkan. pertama kali ke Lombok jg pernah mengalami hal kurang mengenakkan di pantai Kuta tapi tidak menyurutkan keinginan untuk kembali kesana lagi dan lagi. untuk berwisata di negeri ini emang butuh kuping lebih tebal karena sebagian (kecil) masyarakat qt kurang bisa menghargai tamu. semoga tidak kapok… happy new year 2012 😉

  5. halo ndah,
    weekend ini saya n beberapa teman akan ke lombok juga n berencana nginap di senggigi. apa masih menyimpan kontak homestay sonia? no telepon atau ponselnya…
    kepingin ke sendang gila n tiu kelep juga. apa punya info angkutan umum ke sana?
    terima kasih yaa

  6. wah bagus nih untuk jadi guide..
    kebetulan saya suka travelling, tapi kurang suka nulis :D.
    saat ini kebetulan saya tinggal di mataram..
    untuk sewa glass boat, 900k itu kemahalan.. karena saya pernah sewa untuk jalan2 tamu saya seorang profesor hanya 350k…
    ya mungkin bisa lebih murah lagi jika anda menawarnya menggunakan sistem jam :).
    sepertinya belum nyentuh air terjun benang stokel nih ya? mantap tuh air terjunnya, dan gili juga ada di sumbawa.. bagus2 loh..
    khusus yang membawa teman bule, sebisa mungkin anda sudah tau arah dan rute anda, jadi ketika ada yang narik2 anda.. anda ngaku orang lokal dan anda bilang dia bersama anda…
    ya ga bisa dipungkiri, bule selalu menjadi rebutan dan selalu di mahalin..
    untuk yang pengen liburan, dan seandainya info di blog ini masih kurang (tapi saya yakin mah ini udah lebih dari cukup ^_^v ), bisa email saya : koko.ali84@gmail.com :).
    happy travelling semuanya 🙂

  7. what a great info..kebetulan saya dan teman2 mau ke lombok, tp sepertinya budget diatas tidak cocok untuk ukuran backpacker seperti saya yah? :p hehehehe… adakah info budget yg lebih ekonomis lagi mbak? thank you .. 🙂

    1. Rp. 8.823.000 itu pengeluaran u’ 6N7D di bagi 8 orang lho…. seminggu sekitar 1.1 jt.
      kalo mau ekonomis bisa dengan:
      – tidak menyewa mobil, tapi menggunakan transportasi umum
      – cari penginapan yg lebih murah (eh, tp keqnya qt dah murah bgt tuh^^)
      – jangan makan di resto mahal seperti kekhilafan qt di senggigi 🙁
      – tawar sewa perahu buat keliling gili trawangan-meno-air dgn harga yg lebih murah lg atau naik public boat
      ayo jgn takut dgn biaya, banyak yg murah meriah di Lombok koq 😉

    1. Holla Yola… saya dulu ke gili nanggu dengan sewa mobil krn tidak ada transportasi umum menuju ke Gili Nanggu. Plihan lain bisa sewa motor. Di daerah senggigi banyak tempat penyewaan motor.
      Gili Nanggu terletak di daerah Sekotong (cek di peta lombok http://ndahsaja.com/wp-content/uploads/2011/04/peta-wisata-lombok.png )
      Perjalanan dari Bandara Internasional Lombok (BIL) menuju Sekotong dengan mobil dapat dicapai sekitar satu jam.
      Jalur lainnya melalui pelabuhan Lembar, dari bandara ke Lembar hanya setengah jam. Selanjutnya menggunakan perahu atau speedboat sekitar 45 menit, lalu langsung ke pulau-pulau dengan perahu.
      Cek peta rute ke gili nanggu http://ndahsaja.com/wp-content/uploads/2011/04/peta-gili-nanggu.jpg

      Di gili nanggu terdapat penginapan, tapi untuk booking biasanya harus melalui agent travel. keuntungannya nginep di sini bisa menikmati sunset dan sunrise, dan tentu saja snorkeling dan island hoping sepuasnya.
      cek foto mas barry kusuma biar makin mupeng http://www.flickr.com/photos/barrykusuma/sets/72157633548054153/

      semoga membantu 😉

Leave a Reply