Transit Sejenak di Bau-Bau Kota Semerbak

Dalam perjalanan menuju Wakatobi, kami singgah di kota Bau-Bau. Tidak menyangka bahwa Bau-Bau merupakan kota yang cukup ramai. Banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi, seperti Benteng Keraton Buton dan Masjid Agung Keraton, Masjid Kuba dan Tiang Bendera, Rumah Adat, Pantai Kamali,  Pantai Nirwana, Pantai Lakeba dan Pantai Kokalukuna, Air terjun Tirtarimba, Gua Lakasa dan Gua Ntiti serta Pemandian Alam Bungi. Namun karena keterbatasan waktu hanya beberapa saja yang didatangi. Semoga bisa main ke Bau-Bau kota Semerbak lagi 😉

Singgah sejenak di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara

Baubau merupakan pusat Kerajaan Buton (Wolio) yang berdiri pada awal abad ke-15. Bandaranya kecil dengan pengamanan yang sangat minim. Akses menuju kota Bau-Bau dapat melalui udara (Bandara Betoambari) dan laut (Pelabuhan Murhum).

Bandara Betoambari Bau-Bau

Bandara Betoambari kecil dan masih “tradisional”. Koper/ransel yang masuk bagasi tidak perlu di pindai. Bahkan saat pulang dengan menggunakan maskapai penerbangan Merpati, check in masih dengan cara manual (tulis tangan dan tempat duduk dikonfirmasi via walkytalky). Pesan dari Mba Imeh ketika kami akan terbang ke Bau-Bau adalah “jangan letakkan barang berharga di tas yang masuk bagasi, rawan pencurian”.

Masih tulis tangan 😀 (dari HP mami)

Setelah meletakkan tas dan ransel di hotel transit kami langsung menuju Goa Lakasa. Pintu masuk goa dan jalan didalamnya sangat sempit dan di beberapa bagian curam dan licin. Goa Lakasa tidak dilengkapi penerangan sehingga pengunjung wajib membawa headlamp atau lampu senter.

Goa Lakasa, Bau-Bau (dari kamera Carrie)
Keluar goa peres keringat dan urut betis

Keluar dari goa lutut masih gemeteran, TUAAA!!!!

Perjalanan berikutnya adalah mengunjungi Benteng Keraton Wollio yang merupakan Benteng terluas di dunia dan telah masuk Guiness book of World Record pada tahun 2006. Didalam benteng terdapat Istana Badia, Makam Sultan Murhum (Sultan Buton pertama) dan masjid agung kuno yang dibangun pada abad ke-16.

Benteng Keraton Wollio, Bau-Bau

Yang unik dari Masjid Agung Keraton Buton adalah sumur/lubang di teras masjid yang konon katanya jika tutup lubang tersebut di buka akan terdengar adzan dari Mekah. Dipercaya juga jika melongok ke dalam lubang kita bisa melihat orang tua atau kerabat yang sudah meninggal. Mitos atau fakta? Entahlah… Hal menarik lainnya adalah jamaah yang hadir di masjid ini menggunakan baju bermotif lurik.

Masjid Agung Keraton Buton
Tiang bendera yang sudah berdiri sejak abad 17

Serunya lagi, kami berkesempatan masuk ke dalam area diletakkannya Batu Popaua. Batu berbentuk batu ponu atau simbol kewanitaan, tempat Raja/Sultan dilantik oleh Dewan Mentri. Maka resmilah saya di lantik menjadi RATU TIDUR zzz……

Berkesempatan meletakkan kaki di Batu Popaua Kerajaan Buton.

Sambil menunggu peserta trip lain yang belum datang kami menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan pantai Nirwana.

Broken Boat at Nirwana Beach Bau-Bau
Gubuk di sepanjang pantai Nirwana

Setelah makan malam kami menuju Pelabuhan Murhum, Bau–bau. Sekitar pukul 21.00 WITA kapal kayu regular mulai bergerak menuju Tomia. Penyeberangan dari Kota Bau – bau menuju pulau Tomia membutuhkan waktu kurang lebih 10 – 12 jam. Siapin air mineral yang banya buat persiapan ke kamar kecil dan jangan lupa obat anti mabok biar tidur pules di ayun-ayun ombak lautan 😀

Jojo juga ikut naik kapal kayu penyeberangan Bau-bau ke Tomia
Kapal Ferry berlabuh di Pelabuhan Murhum, Bau-bau

Sekembalinya dari Tomia kami masih punya cukup waktu untuk mampir di landmark kota Bau-Bau dan juga Air Terjun Tirta Rimba.

Bau-Bau, kota Semerbak (Sejahtera Menawan Ramah Bersih Aman dan Kenangan)
Pagi Biru di Bau-Bau
Air Terjun Tirta Rimba Bau-Bau

Perjalanan yang sangat singkat namun sangat berkesan 😉

7 thoughts on “Transit Sejenak di Bau-Bau Kota Semerbak”

  1. salam kenal.. dan salam traveling..
    wahhh sy juga pernah k sni, dan yg paling sy ingat waktu jumatan di mesjid kraton itu, saya agak takut ngambil foto jgan smpai kena marah hehe…

    1. awalnya juga nggak berani, foto bagian luarnya saja.
      tapi justru ada bapak2 yang membukakan pintu untuk foto langsung didekat Batu Popaua dan mengijinkan kami foto-foto di semua tempat termasuk di dalam masjid yang sedang ada acara. walaupun begitu kami nggak berani masuk ke masjid, foto dari pintu saja takut menggangggu.

Leave a Reply