Category Archives: Traveling

Panduan Wisata Medan, Toba & Brastagi

Peta Wisata Sumatera Utara (source: www.indonesia-tourism.com)

“Medan – Toba – Brastagi, 3 Hari Mencari cara jadi menantu Tjong A Fie”. Sebuah tag line yang sangat dipaksakan. Mungkin lebih cocok kalo mencontek buku-buku wisata yang mengundang penyesalan minat “Medan – Toba – Brastagi, 3 Hari cuma 3 Jeti”. Perjalanan pertama saya mengunjungi propinsi Sumatera Utara memang sangat singkat, lebih tepatnya hanya 2.5 hari. Sangatlah tidak mungkin dengan waktu kurang dari 3 hari untuk mengunjungi banyak tempat wisata yang jika melihat peta wisata Sumatera Utara, lokasinya tersebar di segala penjuru.

Tiba di bandara Polonia sekitar pukul setengah satu siang, kami memulai perjalanan dengan melewati Istana Maimun menuju ke daerah Kesawan. Di Kesawan kami makan di Rumah Makan Tip Top yang melegenda dan sowan ke rumah Tjong A Fie kemudian bergeser ke Masjid Raya dan dilanjutkan dengan memesan oleh-oleh untuk di ambil hari berikutnya. Sekitar jam 5 kami meninggalkan kota Medan menuju Parapat tempat kami menginap, dengan selingan kunjungan singkat ke dokter gigi dan makan malam. Kami tiba di Hotel pukul 22.00 WIB dengan sedikit drama. Esok harinya setelah sarapan yang menu dan rasanya biasa saja kami menuju penyeberangan Aji Bata, menikmati danau Toba dari kapal Ferry yang berjalan sangat pelan, mengintip atraksi wisata di Tomok, menikmati bentang alam indah di sepanjang perjalanan ke Ambarita, ngerjain guide Ambarita untuk mempraktekkan semua ceritanya dan berkejaran dengan waktu menuju bandara.

Wisata Medan, Toba, Brastagi

Tinggal saya dan mb elfi yang masih tetap tinggal semalam lagi di Medan. Malam terakhir di Medan tidak lengkap rasanya tanpa mencoba becak motor dan menjadi anak gaol Medan dengan nongkrong di Merdeka Walk. Di awali dengan sarapan enak, kami mengisi hari terakhir dengan mengunjungi Air Terjun Sipiso-piso, desa tongging, Brastagi dan Bukit Gundaling. Pukul 8 malam saatnya kami kembali ke Jakarta dan mengakhiri rangkaian perjalanan Aceh – Medan dengan rasa tidak puas, HARUS KEMBALI LAGI!!

Bagaimana dan seperti apa perjalanan kami ke Medan – Toba – Brastagi? Pemirsah, ikuti saya…


Continue reading Panduan Wisata Medan, Toba & Brastagi

Panduan Wisata Pulau Sabang, NAD

Sertifikat 0 km Sabang

Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau…” Siapa yang tidak kenal lagu nasional ini? Sebuah lagu yang menggambarkan betapa luas tanah air yang kita cintai, Republik Indonesia. Namun sudahkah anda mengunjungi atau paling tidak mengetahui 2 tempat yang berada di ujung wilayah Indonesia tersebut? Bagi kita yang berada di Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku, kota Sabang dan Merauke terasa (dan memang kenyataannya) sangat jauh. Jadi jangan heran ketika mengunjungi Pulau Sabang atau Pulau Weh anda justru banyak bertemu dengan wisatawan Malaysia, karena secara geografis mereka lebih dekat. Dengan biaya yang jauh lebih murah dan waktu lebih cepat mereka liburan ke Sabang mungkin seperti orang Jakarta berlibur ke Kepulauan Seribu. Awal April 2012, setelah sehari sebelumnya berwisata singkat di Banda Aceh saya akhirnya berhasil menginjakkan kaki di ujung barat wilayah Indonesia dan tercatat sebagai pengunjung tugu 0 km Sabang yang ke 52.485. Yippiee……

Pulau Weh atau yang lebih terkenal dengan nama Sabang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pualu ini dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat. Pulau dengan luas 156,3 km² terdiri dari beberapa pulau kecil yang terbentuk sebagai akibat dari letusan gunung yaitu Pulau Weh (121 km2), Pulau Rubiah (0,357 km2), Pulau Seulako (0,055 km2), Pulau Klah (0,186 km2), dan Pulau Rondo (0,650 km2). Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, dermaga Sabang telah menjadi pelabuhan penting sebagai pangkalan batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang kemudian dikembangkan menjadi lalu lintas perdagangan barang.

Santai Bang, ini di Sabang…

Pemerintah Indonesia pada tahun 2000 menetapkan Sabang sebagai Zona Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, bayangan saya dengan penetapan tersebut saya akan menemukan kota yang sibuk dengan lalu lintas barang dan jasa. Namun ternyata kota Sabang tidaklah seramai dugaan saya, apalagi jika anda jalan-jalan di kotanya setelah jam 12 siang, kota ini sangat sangat sepi. Menurut Bang Arphen, sopir kami selama di Sabang, ketika datang waktu dzuhur maka aktivitas penduduk di sini berhenti, mereka akan beristirahat hingga maghrib. Santai Bang, ini di Sabang…. Nikmati saja segarnya udara dan keindahan alam yang tersaji di setiap sudut pulau.

Continue reading Panduan Wisata Pulau Sabang, NAD

Panduan Wisata Banda Aceh, NAD

Mendengar kata Aceh ingatan saya terbawa pada 2 hal, Gerakan Aceh Merdeka dan bencana besar yang terjadi tanggal 26 Desember 2004, Tsunami. Kedua hal tersebut jujur saja membuat saya tidak memprioritaskan perjalanan ke propinsi yang mendapat julukan Serambi Mekah. Seiring situasi keamanan yang semakin kondusif dan intensitas gempa yang semakin berkurang pariwisata Aceh semakin menggoda dan berhasil menggeser prioritas perjalanan saya tahun ini ke Pulau Komodo.

Wisata Banda Aceh

Bersama ke-4 teman saya, Mb Elfi, Novi, Mami dan Dian kami merencanakan perjalanan ke Aceh – Sabang dan Medan dalam satu rangkaian perjalanan. Dengan beberapa berita di televisi sedikit membuat teman saya ragu, namun tekad kami sudah bulat sehingga kami segera booking tiket pesawat dan penginapan agar tidak ada alasan untuk membatalkannya. Persiapan trip Aceh – Sabang – Medan cukup mudah karena banyak informasi di internet dan juga dari teman-teman yang pernah ke tempat-tempat tersebut baik versi backpacker maupun flashpacker.

Transportasi menuju Aceh:

Pesawat

Penerbangan dari Jakarta ke Aceh memakan waktu 3 – 4 jam, dengan rincian Jakarta – Medan 2 jam 15 menit, transit di Medan selama 30 menit, Medan – Aceh 1 jam. Pesawat dari Jakarta ke Aceh cukup banyak, maskapai penerbangan yang menyediakan penerbangan langsung adalah: Garuda Indonesia, Sriwijaya dan Lion Air  jika anda menggunakan penerbangan multiple bisa menggunakan penerbangan menuju Medan dan dilanjutkan dengan ke-3 maskapai tersebut menuju Aceh.

Bus

Jika anda mau menghemat biaya transport dan penginapan bisa menggunakan penerbangan sore ke Medan dan melanjutkan perjalanan dari Medan menuju Aceh dengan bus malam, lama perjalanan sekitar 10 jam. Tersedia bus Kurnia, Anugerah, Pusaka, PMTOH dan Pelangi yang melayani Medan – Aceh (PP). Menurut info di busmania, tarif bus sekitar Rp. 120.000 – Rp. 200.000,-


Continue reading Panduan Wisata Banda Aceh, NAD

Panduan Wisata Kebumen

Tugu Lawet dan Alun-alun Kebumen

Ketika anda dari Jakarta/ Bandung/ Purwokerto menuju Jogja dan melewati jalur selatan (jalan daendeles) atau anda dari Surabaya/ Solo/ Jogja menuju Jakarta melalui jalur selatan, dengan atau tanpa disadari anda telah melewati kota kelahiran saya, Kebumen. Kota kecil yang membentang sepanjang jalan Daendeles memang tidak seterkenal kota-kota tujuan wisata di sebelahnya seperti Dieng, Jogja, maupun Semarang. Atau sekarang anda lebih tahu kota Kebumen karena ada Yoda Idol? 😀

Kebumen memiliki banyak obyek wisata yang sudah di tunjang dengan sarana jalan yang cukup baik. Sebelum di bangun jalur alternatif Kebumen Selatan dan dipindahkannya terminal Kebumen ke Jl.Lingkar Selatan Kebumen, kecamatan Ayah, Gombong, Karanganyar, Soka dan Kutowinangun menjadi kecamatan yang paling berkembang karena di dukung sarana jalan yang baik, obyek wisata yang cukup banyak, pusat perdagangan dan industri genteng soka.  Setelah jalur alternative di bangun, perekonomian berbasis wisata di kecamatan Ambal, Bocor dan Puring yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia meningkat cukup pesat karena akses menuju pantai dengan ombak besar dan pasir coklat kehitaman khas pantai selatan semakin mudah.


Continue reading Panduan Wisata Kebumen

Panduan Wisata Bogor – Puncak dan sekitarnya

Bogor pada awal pendiriannya di jaman kolonial bernama Buitenzorg (berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”) direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal saat ini telah berkembang menjadi daerah penyangga ibukota yang penuh sesak dengan perumahan. Julukan kota sejuta angkot menunjukkan betapa semrawutnya system transportasi di kota hujan ini. Bahkan 2 buah terminal angkot Bubulak dan Laladon milik kabupaten Bogor  dan kota Bogor  berjarak tidak lebih dari 1 km, tidak ada yang mau mengalah menggunakan 1 terminal saja. Mata pencaharian utama warga Bogor sepertinya ada di jalan, selain banyaknya sopir angkot, calo angkot, pedagang asongan, pedagang warung tenda bahkan pak ogah berdiri gagah di setiap putaran jalan. Walaupun demikian, pesona Bogor sebagai tempat wisata tidak menyurutkan orang untuk berlibur ke Bogor. Bogor memang memiliki banyak pilihan tempat wisata, ada wisata alam, wisata sejarah, wisata ilmu pengetahuan, wisata budaya dan tentu saja wisata kuliner. Anda membutuhkan peta wisata Bogor? Silahkan tanyakan kepada Google. Ooppss tidak ada?? Ada siih… di website wisata kabupaten bogor, tapi ukurannya keciiiill sekali, sampe tidak bisa di baca. Mungkin takut hasil jerih payah pembuatnya digunakan dengan bebas oleh wisatawan, mungkin karena Bogor sudah sangat terkenal atau mungkin saya yang terlalu malas mencarinya. Website puncakview menerbitkan peta wisata versi pdf sehingga bisa diperbesar sesuka hati. Kalau ingin punya gambaran wilayah bogor bisa main-main “get direction” di http://maps.google.co.id/ Buat yang gak peduli dengan ketersediaan peta wisata, let’s get lost at Bogor! Selamat menebak-nebak rute wisata Bogor di tengah belantara hutan angkot 😛

Transportasi menuju Bogor:

  • Pesawat: dari Bandar Soekarno Hatta naik Damri jurusan Bogor turun di terminal Damri (sebelah mal Botani Square) dengan tarif Rp. 35.000,-
  • Kereta: turun di stasiun Gambir naik Commuter line tujuan stasiun Bogor, tarif Rp. 7.000,-. Jika anda turun di stasiun Jatinegara bisa menunggu commuter line  jurusan stasiun Manggarai atau keluar stasiun nyebrang jalan dan naik ojek/bajaj ke stasiun Tebet, tarif sekitar Rp. 10.000,- atau naik metro mini jurusan Kampung Melayu pindah ke jurusan Tebet dengan tarif masing-masing Rp. 2.000,-. Dari stasiun Tebet naik Commuter line jurusan Bogor atau KRL Ekonomi dengan tarif Rp. 2.000,-
  • Bus: Naik bus jurusan terminal Baranangsiang.

 Transportasi di kota Bogor:

Angkot di Bogor tidak masuk terminal Baranangsiang, hanya melewati saja. Angkot di Kabupaten berwarna biru, tidak ada angka hanya tulisan jurusan tiap angkot. Angkot di Kota berwarna hijau, dengan rute sesuai angka. Tarif angkot hijau rata-rata Rp. 3.000, jarak jauh Rp. 4.000.

Continue reading Panduan Wisata Bogor – Puncak dan sekitarnya

Panduan Wisata Solo (dan tetangganya)

Kebo Bule Kyai Slamet

Pertengahan Februari 2011 saya kembali ke Solo untuk yang ke-3 kalinya bersama teman-teman dari Jakarta dengan menggunakan moda transportasi Kereta Api. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun mb LV sehingga sebuah kue dan lilin (yang tidak berani kami nyalakan karena takut muncul masalah), dengan suara lirih kami menyanyikan lagu “happy birthday”. Sebuah perjalanan yang sangat berkesan.

Tempat wisata di Solo tidaklah sebanyak di Jogja, 2 hari kami rasa cukup untuk menikmati wisata alam, sejarah, budaya dan kuliner. Dengan mengambil cuti “harpitnas” kami membagi liburan menjadi 2 hari di Solo dan 2 hari di Jogja. Itinerary Solo – Jogja yang kami susun sebagai berikut:

Jum’at, 11 February 2011 : 20.00 – 04.04 Perjalanan dengan kereta api

Sabtu, 12 February 2011 :
04.00 – 05.00 OTW ke penginapan
05.00 – 07.00 Mandi, Sarapan, persiapan travelling
07.00 – 13.00 Air Terjun Parangijo, Kebun Teh Kemuning, Candi Cetho, Candi Sukuh, Candi Monyet/Kethek”
13.00 – 17.00 Air Terjun Grojogan Sewu – Makan
17.00 – 22.00 Kembali ke penginapan dan mandi dilanjutkan wisata kuliner malam di Gladag Langen Bogan

Minggu, 13 February 2011
05.00 – 08.00 Mandi, sholat, sarapan
08.00 – 17.00 Puro Mangkunegaran, Kraton dan Museum, Pasar Klewer, Batik Lawean dll –> CITY TOUR
17.00 – ~ Jalan malam di Solo – Packing, Senin pagi usai sholat Subuh berangkat ke Jogja (Panduan Wisata Jogja)

Yang terjadi kemudian adalah…. Hujan menyurutkan rencana kami ber-narsisria di kebun teh, pak sopir dengan mobil yang hanya 1500 cc setelah menanjak terengah-engah ke candi sukuh sepertinya kurang pede menanjak lebih tinggi ke candi cetho. Tidak ada yang mau turun di keraton Solo karena tidak semenarik keraton Jogja sehingga hanya berkeliling melihat kyai Slamet dan kereta pembawa jenasah (*mendadak merinding). Wisata kuliner malam pun urung karena kemalasan kami mencari warung di tengah keramaian. Hari pertama dengan menyewa mobil kami habiskan di air terjun tawangmangu, candi cetho, keliling sekitar keraton, masjid agung Surakarta (dan kecopetan –“), mengantri dengan kesabaran ekstra di Serabi Solo Notoyudan dan makan malam mewah di Omah Sinten. Hari kedua memanfaatkan taxi yang sangat mudah di peroleh, kami berbelanja kaos khas Solo “Klamben”  di Pusat Grosir Solo, makan siang di Solo Grand Mall, belanja batik di Kampung Batik Laweyan, mengantar teman yang kembali ke Jakarta dan kembali ke guesthouse untuk packing dihiasi dengan serangkaian cerita horror. Usai sholat subuh kami bergegas ke stasiun mengejar kereta prameks paling pagi. Rangkaian perjalanan yang tidak layak dijadikan contoh! ^_^

Easy Gezhoz – Griya Singgah

Di Solo kami menginap di Easy Gezhoz – Griya Singgah, telp 0271 8015151 dengan harga Rp. 1.000.000,- terhitung dari kami datang Sabtu dinihari sampai dengan Senin pagi. Griya Singgah berada di Jl. Aster I/7 Tumenggungan Timuran – Solo, masuk gang kecil di sebelah RS. PKU Muhammadiyah Solo. Tersedia 2 kamar besar, 2 kamar mandi, ruang tamu luas, garasi, dapur (lengkap dengan peralatan masak & makan, kulkas, dispenser) dan mushola. Untuk berkeliling Solo hari pertama kami menyewa mobil di Citra Bengawan Rent Car  Avansa S 1500 cc, setelah nego kami mendapatkan harga Rp. 450.000,- /14 jam (08.00 – 22.00 WIB) sudah termasuk sopir dan BBM.


Continue reading Panduan Wisata Solo (dan tetangganya)

Panduan Wisata Bali (Jalan-Jalan di Bali)

Senja dan Cinta di Pantai Lovina

Ketika pertama kali ke Bali saya masih bisa menelfon Bluebird untuk di jemput di bandara tapi ternyata saat ini sudah tidak bisa lagi. Sehingga ketika taxi di Bandara menawarkan harga yang mahal menuju penginapan di Nusa Dua, saya dan seorang teman keluar bandara Ngurah Rai ke arah kanan menunggu taxi di jalan raya dan kemudian menjemput teman yang lain di dalam bandara. Akan lebih baik kalo memesan mobil terlebih dahulu dari pihak Hotel untuk menjemput ke Bandara.

Bali Part #1 kami menuju penginapan di Legian dengan naik taxi dan berkeliling Bali dengan menyewa mobil kijang kapsul dari Hotel. Sewa mobil+sopir+bensin Rp. 300.000,-/12 jam.

Bali Part #2 kami menyewa mobil APV dengan tarif Rp 250.000/12 jam dan overtime Rp. 25.000/jam. 3 hari sewa kami membayar Rp. 800.000,-, bensin selama 3 hari Rp. 280.000,- dan memberi tip sopir Rp. 200.000,-. Kami menyewa di ABS. Tour and Travel milik I Nyoman Bakat, HP: 0812 3636 2206 dengan sopir bli Komang.

Bali Part #3 kami menyewa mobil dari Surabaya kami menyewa Avansa di http://pusaka-rentcar.blogspot.com/ dengan sewa Rp. 450.000/24 jam (mobil + sopir), dihitung mulai hari Jum’at jam 22.00 WIB – Minggu jam 22.00 WIB, bensin selama 2 hari Rp 350.000,- dan tips sopir Rp. 100.000,-. Pusaka: Jl. Semolo Waru Elok Blok Q/ 14 Surabaya. Phone: +6231 7250 6007 / 0813 5799 0007/ 0878 5150 2007 dengan sopir Pak Harry.

Di Nusa Dua kami menginap di The Studio One Jl. Bypass Nusa Dua 7x, Nusa Dua. Kami menemukan alamat tersebut di pameran traveling sehingga mendapat diskon 10%, selain itu kami juga mendapat bonus 1 kamar junior suite karena memesan 3 kamar deluxe. Fasilitasnya  AC, TV, hoot-cool water, breakfast dan wifi. Tarif per malam:


Continue reading Panduan Wisata Bali (Jalan-Jalan di Bali)