Rumput Laut: Potensi Tersembunyi Pariwisata Wakatobi

menyelami keindahan wakatobi

Pertama kali mendengar nama Wakatobi yang terkenal dengan keindahan panorama underwater-nya saya mengira Wakatobi sebagai sebuah pulau kecil bernama Wakatobi. Dalam sebuah pameran pariwisata saya baru mengetahui bahwa wisata unggulan propinsi Sulawesi Tenggara ini merupakan kumpulan pulau-pulau kecil yang terdiri dari Wangi-wangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Kecantikan panorama bawah laut Wakatobi yang tercipta dari puluhan gugusan terumbu karang, ratusan jenis karang dan ikan menarik wisatawan pecinta diving dari dalam dan luar negeri untuk menyelami keindahannya.

Membuka lembar demi lembar promosi wisata Wakatobi semakin menggugah semangat saya untuk segera memasang pelampung, snorkel dan fin dan langsung menyapa ikan badut, baronang, barakuda, ikan warna-warni yang tidak saya kenal namanya serta berpose cantik dihamparan terumbu karang yang jauh lebih cantik. Saya juga tidak sabar menjejakkan kaki di pasir pantai serta menghirup udara segar yang belum tercemar timbal, menikmati matahari terbenam dari bukit khayangan, mengenal suku bajo, mungkin saya bisa belajar berenang dan menyelam kepada penduduk yang hidup bersama laut dan terkenal sebagai penyelam handal, serta mencicipi makanan serba ikan, barongko, kasouami dan tentu saja snack renyah manis bernama karasi.

Ketika akhirnya pada bulan Juni 2013 saya berhasil mewujudkan impian tersebut, seluruh penat yang melanda selama 12 jam perjalanan menggunakan kapal dari Bau-Bau menuju Tomia seketika terobati. Tidak salah banyak wisatawan bahkan jurnalis majalah diving menasbihkan Wakatobi sebagai tempat menyelam terindah. Foto keindahan Wakatobi yang menyebar di internet bukanlah hasil tipuan kamera atau kepandaian fotografer mengambil sudut pengambilan gambar. Tiap sudut Wakatobi tidak henti-henti membuat saya takjub dan berdecak kagum.

island hopping

Air lautnya yang jernih bagaikan kaca yang membingkai gugusan terumbu karang dan kawanan ikan, pasir pantainya yang halus memijat lembut telapak kaki yang terbiasa beralas sol sepatu, langitnya yang bersih berpadu dengan bias sinar matahari mewarnai awan yang berarak, pelangi yang melengkung seusai hujan reda seketika menawan hati, bukitnya yang hening menundukkan  wajah kita untuk menjadi saksi kecantikan wakatobi. Alam yang indah dan tenang terpecahkan suara anak-anak kecil bermain di pantai, gossip hangat ibu-ibu sambil mengolah teripang serta sesekali deru kendaraan melintas jalanan yang lengang.  Tempat yang sangat tepat untuk membuang kegalauan.

Warna senja Bukit Khayangan Tomia, Wakatobi

Dalam perjalanan menuju desa wisaya Liya Togo sekali lagi saya dibuat terperangah dengan potensi laut daerah Wakatobi. Selain menopang perekonomian masyarakat dengan pariwisata dan hasil tangkapan ikan, perairan Wakatobi juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak petani rumput laut. Rumput laut yang sedang dikeringkan terhampar luas di pinggir pantai desa Liya Mawi, Wangi-Wangi Selatan. Menurut penduduk setempat yang menjadi sopir sekaligus pemandu, produksi rumput laut kering bisa mencapai ribuan ton. Dalam 1 tahun petani rumput laut memanen hasilnya 4 – 6 x. Saat harga sedang baik (sekitar Rp. 10.000) petani rumput laut bisa memperoleh penghasilan bersih sekitar 25 juta rupiah. Namun petani tidak jarang merugi ketika harga rumput laut terjun dibawah Rp. 5.000/kg.

Panen Rumput Laut di Wakatobi (sumber: Antara)
Panen Rumput Laut di Wakatobi (sumber: Antara)

Melihat hasilnya yang luar biasa timbul pertanyaan menggelitik “mengapa saya tidak menemukan makanan olahan hasil rumput laut sebagai oleh-oleh khas dari Wakatobi, seperti dodol rumput laut yang banyak ditemukan di Lombok?” Menurut Pak Sopir, Wakatobi belum memiliki industri pengolahan hasil rumput laut. Walaupun pada tahun 2012 Kementrian Pembangunan Desa Tertinggal pernah menjanjikan pembangunan industri pengolahan hasil rumput laut namun sudah setahun berlalu belum ada tanda-tanda pendirian pabrik. Rumput laut kering umumnya dijual langsung ke tengkulak untuk dikirimkan ke Bau-Bau, lalu diteruskan ke Kendari, lalu ke Surabaya dan kemudian di ekspor sebagai bahan kosmetik dan makanan.

Oleh-oleh Dodol Rumput Laut dari Lombok

Kondisi ini sangat disayangkan mengingat potensi yang luar biasa dari industri pengolahan rumput laut terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Wakatobi. Sebagai wisatawan biasa dengan pemikiran sederhana saya tidak muluk-muluk melihat pabrik pengolahan rumput laut menjadi bahan pangan, farmasi atau kosmetik berdiri disini, menyerap hasil panen petani dan menyerap tenaga kerja penduduk setempat. Impian saya adalah melihat tumbuhnya industri kecil menengah (UKM) penghasil dodol rumput laut yang dapat menjadi oleh-oleh khas dari Wakatobi. Memberdayakan masyarakat setempat untuk memberikan nilai lebih terhadap rumput laut sehingga ketika harga sedang turun mereka tidak merugi karena ada makanan olahan yang memiliki harga cenderung stabil. Bandung, Jogja, Medan, Bali menjadi tujuan wisata favorit bukan hanya karena keindahan tempatnya, namun bagaimana industri kreatif baik makanan maupun kerajinan tangan hasil masyarakat setempat menarik wisatawan bukan hanya untuk sekedar berkunjung tetapi juga berbelanja.

Semoga bisa kembali lagi ke Wakatobi

Tahun lalu, saya pulang dari Wakatobi hanya dengan membawa oleh-oleh karasi dan kaos bertuliskan Wakatobi yang ternyata kaos produksi Bandung. Semoga jika di masa mendatang saya kembali ke Wakatobi, masyarakat setempat sudah memiliki lebih banyak ke-khas-an yang dapat dinikmati dan dibawa pulang pengunjungnya.

*tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas dalam writing class “artikel persuasif” (13/9/2014)

33 thoughts on “Rumput Laut: Potensi Tersembunyi Pariwisata Wakatobi”

  1. alamak…><" bagus banget pemandangan underwaternya,,blom prnh lyt yg kayak bgitu hikss..jadi pingin kesana ih..hmm makasih gan infonya yah,,smoga thn depan gue bisa kesna deh amiin 😀 hehe oya ane juga ada info nih buat yg pingin liburan ke Raja Ampat bisa deh diliat2 dulu^^

    1. dodol rumput laut rasanya mirip agar2 tapi bentuknya lebih kenyal. enak!
      pemandangan aslinya jauh lebih bagus dari foto, coz kamera kurang mendukung underwater 🙁
      hukum traveling ke wakatobi itu… snorkling adl wajib dan diving adl sunah (bagi yang mampu) heheheee….

  2. Aneh yaw mbak,,,, daerah penghasil rumput laut, tapi malah nggak ada oleh – oleh (buah tangan) yang berasal dari lumput laut,,,, padahal kalau ada yaw bisa menaikkan taraf hidup masyarakat

  3. Tahun 2025, jika kawan berkunjung ke wakatobi lagi, Insya Allah sudah ada industri kreatif yang akan dibangun oleh putra daerah. amin

Leave a Reply