Sawah: sebuah panggung pertunjukan atau sumber kehidupan?

Bersepeda menyusuri persawahan Ubud

Ubud, sebagai salah satu destinasi wisata utama di Bali namanya semakin berkibar dengan adanya film “Eat, Pray and Love” yang dibintangi artis besar Hollywood Julia Robert. Wisatawan berduyun-duyun mengunjungi Ubud mengharapkan romantisme yang sama dengan Elizabet Gilbert, bersepeda diantara bentangan sawah dan menghirup udara segar yang jauh dari polusi. Namun Ubud saat ini bukanlah Ubud 6-10 tahun silam ketika pertama kali saya mengunjungi desa yang terkenal dengan terasiring dan sistem air subak.  Hotel mewah dan penginapan murah mulai memangkas luas sawah yang ada. Di beberapa tempat, sawah hanya sebuah sebuah pajangan yang menjadi pemanis sebuah hotel. Luasnya tidak seberapa, namun aktifitas petani menanam padi, mengolah sawah dan memanen menjadi sebuah atraksi menarik bagi wisatawan yang menginap di hotel tersebut.

Wisata sawah, mungkin itu sebutannya. Warga disekitar penginapan bekerja sebagai petani, sebuah profesi yang biasa mereka jalani namun kali ini sawah menjadi panggung dengan petani menjadi bintang utama dan wisatawan sebagai penontonnya. Pertunjukan ini mencapai box office saat musim tanam dan musim panen tiba. Ironisnya, sang penonton bukan hanya wisatawan mancanegara yang bukan berasal dari negara agraris tetapi juga wisatawan lokal lebih tepatnya anak gaul Jakarta yang tidak pernah melihat aktivitas di sawah. Wisata sawah, mungkin itu sebutannya. Warga disekitar penginapan bekerja sebagai petani, sebuah profesi yang biasa mereka jalani namun kali ini sawah menjadi panggung dengan petani menjadi bintang utama dan wisatawan sebagai penontonnya. Pertunjukan ini mencapai box office saat musim tanam dan musim panen tiba. Ironisnya, sang penonton bukan hanya wisatawan mancanegara yang bukan berasal dari negara agraris tetapi juga wisatawan lokal lebih tepatnya anak gaul Jakarta yang tidak pernah melihat aktivitas di sawah. Sang penonton tidak ragu untuk turut serta menjadi cameo, mereka ikut turun ke panggung dan rela belepotan agar bisa merasakan “tandur” atau menanam padi dengan langkah mundur. Disaat musim panen tiba mereka menjadi pemeran pengganti dalam adegan memotong padi serta memerkan hasilnya di kamera mirip pose pejabat disaat panen raya.

Berpose ala Pejabat sedang Panen Raya

Sang bintang utama tidak ada yang keberatan ketika wisatawan mengganggu aktivitas panen-nya, penontonpun bahagia dapat tampil walaupun hanya sebagai cameo dalam pementasan “wisata sawah”. Tidak ada yang malu, tidak ada yang dirugikan, semua bahagia menjadi petani.

Fenomena alih fungsi sawah tidak hanya terjadi di Bali, hampir diseluruh wilayah yang menjadi lumbung beras terjadi penurunan luas lahan sawah produktif. Menurut litbang Kompas yang diterbitkan dalam harian kompas (Senin, 15/9/2014) laju konversi sawah per tahun mencapai 100.000 hektar/tahun. Sawah tidak lagi ditanami padi, produk yang lebih menjanjikan secara ekonomis tumbuh dengan sangat pesat menggusur bibit-bibit padi yang baru tumbuh. Hotel, vila dan wahana permainan tumbuh menggantikan padi di daerah wisata. Pabrik, perumahan, fasilitas publik tumbuh subur di kota-kota besar, semua mengorbankan produksi beras yang bernilai rendah. Pasokan beras untuk masyarakat Indonesia yang makanan pokoknya adalah nasi dapat dengan mudah disediakan oleh pemerintah dengan mengimpor beras dari negara pertanian lainnya. Saat harga pangan melambung, daya beli menurun, masyarakat berteriak kekurangan dan pemerintah kebingungan.

Permasalahan di bidang pertanian seperti benang kusut yang tidak pernah diluruskan apalagi berubah menjadi sebuah rajutan indah walaupun telah berganti-ganti kepala pemerintahan. Pemerintah tidak pernah memiliki program pertanian yang jelas untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Petani Indonesia sebagian besar adalah petani dengan kepemilikan tanah yang rendah (petani gurem) dan buruh tani, mereka hanya memiliki modal yang kecil sementara biaya produksi beras sangat besar, mulai dari harga bibit dan pupuk, biaya pengolahan dan perawatan tanah dan tanaman serta biaya panen. Biaya produksi yang tinggi tidak dapat ditutupi dengan harga jual komoditas yang rendah dan ketidakpastian pasar dalam menyerap hasil panen. Masalah semakin pelik ketika pasar dibanjiri dengan produk pertanian luar negeri dengan kualitas bagus dan harga lebih murah.

Petani bukan profesi bergengsi

Menjadi petani bukanlah profesi yang diidamkan orang tua kepada anak-anaknya. Potret petani sebagai orang yang lusuh, kotor dan miskin bukanlah profesi yang dapat dibanggakan. Profesi ini hanya dilakukan oleh orang tua dengan pendidikan rendah, tidak pantas lulusan perguruan tinggi mengelola sawah yang menjadi sumber biaya pendidikannya. Perlahan-lahan generasi modern semakin terjauhkan dari sumber penghidupan yang mengawali pencapaian mereka saat ini. Sehingga tidak heran ketika “wisata sawah” juga menjadi atraksi yang menarik minat wisatawan lokal.

Petani Generasi 2.0

Dapatkah masyarakat modern dapat melepaskan diri dari pertanian? Pada kenyataannya kehidupan kita bergantung pada hasil pertanian, dari sawah yang berlumpur, dari lahan yang kotor dan bau, sumber makanan akan terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Semoga di masa mendatang keceriaan dan kebahagiaan yang sama akan dirasakan oleh petani generasi 2.0 ketika mengolah sawahnya seperti para penonton “wisata sawah” ketika menjadi cameo dalam panggung megah di sawah milik pengelola wisata.

*tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas dalam writing class bertema pertanian (13/9/2014)

9 thoughts on “Sawah: sebuah panggung pertunjukan atau sumber kehidupan?”

    1. suatu kehormatan dibilang inspiratif sama empu 😀
      mas wawan yg mbiayain nyetak bukunya ya….
      yaaa masukin dikit lah ke anggaran menkominfo, rapat apa gitu 😉

Leave a Reply